Pada tanggal 21 Januari yang lalu, headline beberapa surat kabar dipenuhi dengan berita jatuhnya harga saham-saham utama dunia. Banyak analis yang mengatakan bahwa hal ini akan memicu terjadinya krisis ekonomi global, dipicu oleh kasus kredit macet perumahan di Amerika Serikat yang dalam beberapa pekan terakhir ini merembet ke sektor lain. Ben Bernanke, chairman bank sentral Amerika Serikat yang dikenal dengan nama The Fed mengumumkan pemotongan tingkat suku bunga sebesar 75 basis poin sebelum perdagangan saham dibuka pada keesokan harinya.
Krisis pasar finansial yang terjadi di Amerika Serikat dipicu oleh kredit macet sektor perumahan yang diperparah dengan neraca keuangan Amerika yang ”tidak sehat” akibat defisit yang terus membesar. Sektor perumahan Amerika Serikat yang ditopang oleh pinjaman pihak ketiga (badan finansial) atau seringkali disebut dengan mekanisme subprime mortgage ini ternyata tidak berhasil dikelola dengan baik. Terjadi banyak ketidakdisiplinan dalam mekanisme penyaluran kredit dan overconfident dari para pelaku pasar sehingga aliran dana kredit besar-besaran mengalir begitu saja bahkan kepada para kreditor yang memiliki catatan kredit buruk.
Laporan badan-badan independen yang seharusnya memberikan analisis objektif mengenai sektor-sektor ekonomi di Amerika Serikat juga ikut dimanipulasi sedemikian rupa untuk menciptakan sentimen positif terhadap sektor perumahan—namun tanpa disertai safeguard ekonomi yang memadai. Akibatnya muncul banyak kegagalan pembayaran kredit oleh para kreditor. Sebagai efek dominonya, pihak ketiga penopang kredit (yaitu badan-badan keuangan swasta) yang telah berinvestasi ratusan juta dolar banyak yang mengalami kerugian sangat besar dari sektor ini. Himpunan dana yang tadinya dibutuhkan untuk menggerakkan roda perekonomian Amerika Serikat kini tersendat dan tidak dapat diputar kembali untuk investasi. Akibatnya terjadi krisis finansial di dalam negeri yang memicu perlambatan pertumbuhan ekonomi dan berpotensi untuk meruntuhkan fondasi ekonomi Amerika.
Sebagai negara tujuan ekspor dengan tingkat daya beli paling tinggi di dunia, menurunnya perekonomian Amerika akan berdampak luas terhadap perekonomian negara lain. Logikanya, dengan menurunnya daya beli masyarakat Amerika, maka tingkat permintaan terhadap barang pun akan berkurang sehingga negara-negara dengan volume ekspor yang besar ke Amerika akan mengalami penurunan nilai ekspor. Hal ini akan memicu perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara-negara dengan tujuan ekspor ke Amerika. Apakah akan kembali terjadi krisis ekonomi global? Now the debate is not whether we’re going to have a soft landing or a hard landing in the U.S. but how hard the landing is going to be…


mas andika, sy lg skripsi ttg dampak resesi ekonomi as thd perekonomian global, bs bantu ksh masukan g?